Ketika tak sanggup apa-apa, hanya kata pasrah yang ada.
Ketika doa tak lagi dijamah, hanya kata nyerah yang ada.
Ketika lara sudah meraba, hanya kata putus asa yang ada.
Di mana bahagia seutuhnya? Mungkin sudah usang ditelan masa.
Monday, 9 December 2013
Sunday, 8 December 2013
"Karena Kamu . . ."
Sebuah tulisan yang mampu mewakili rasaku ketika bersamamu. Bukan sebuah tulisan yang tanpa latar belakang, namun ini sebuah tulisan berdasarkan kenyataan. Kenyataan bahwa aku nyaman dalam sebuah keadaan, keadaan ketika bersamamu.
Karena kamu . . .
Wednesday, 27 November 2013
Perempuan Tua itu Ibuku
Polesan bedak tak lagi nampak
Garis tipis celak tak lagi membelalak
Pemerah wajah tak lagi merona
Garis tipis celak tak lagi membelalak
Pemerah wajah tak lagi merona
Monday, 25 November 2013
Kenangan
Lagi-lagi gemericik hujan,
menebar rindu yang menyeruak syadu,
mengulas kenangan pada tiap tikungan,
menebar rindu yang menyeruak syadu,
mengulas kenangan pada tiap tikungan,
Saturday, 23 November 2013
Aku Tak Mau Melihat Biola Ini Lagi di Kamarku!
Awalnya aku sudah merasa "deg" ketika kamu akan menitipkan biolamu di kamarku. Bukannya apa, aku hanya parno sama tempat biolanya. Seperti peti mati sih, serem. Tapi karena kasian sama kamu, dan daripada kamu kerepotan bawa
Happy Birthday Sahabat Kecilkuuu ♥
Aku masih ingat, saat itu usiaku baru 11 tahun. Aku memperkenalkan diri dengan malu-malu di depan kelas sebagai murid baru di kelas itu. Semua mata menatap padaku, hening. Hanya lempar pandang yang ku lihat dari depan. Aku tertunduk malu diserang semua tatapan itu. Hampir menangis juga aku dibuatnya. Lalu aku
Friday, 22 November 2013
Thursday, 21 November 2013
Harus Ku Namai Apa?
Seperti judul di atas "Harus Ku Namai Apa?" perasaan yang semakin tak biasa, yang semakin tak menentu, bukan soal lara, bahagia, apalagi cinta. Aku bingung "Harus Ku Namai Apa?". Terkadang bahagia, tertawa,
Thursday, 14 November 2013
Persahabatan (katanya)
Entah mulai darimana dulu aku bercerita. Ini tentang persahabatan (katanya),atau tentang persaudaraan (katanya), kalau tentang pertemanan? jawabnya jelas bukan.
Wednesday, 6 November 2013
Analisis Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, Chairil Anwar
Senja
di Pelabuhan Kecil
Buat
Sri Hayati
Karya : Chairil Anwar
Wednesday, 30 October 2013
Happy Sweet Seven
Berawal entah darimana, semuanya mengalir begitu saja. Senyum dan sapamu petang itu membuka semuanya tentang kita. Tentang rasa yang terpendam, tentang sebuah kepastian, dan tentang cinta yang mulai merajalela.
Monday, 28 October 2013
Happy Birthday Aulia Bharhayula
Sebuah pertemanan yang bisa dianggap persahabatan, yang diawali dari ketidaksengajaan seorang teman terbaik yang mengenalkan sahabatnya.
Thursday, 24 October 2013
Sebuah Cerita dalam Kata
Ini cerita, tentang rasa, tentang tawa, tentang suka, tentang duka, tentang gundah, tentang resah, tentang amarah, dan tentang apa saja tentang cinta yang kami tuang dalam goresan tinta. Karena cinta, aku dan kamu ada.
http://farizlangen.blogspot.com/
http://farizlangen.blogspot.com/
Friday, 18 October 2013
Tiruan Kompeni
Ini seperti Belanda
Sering disebut kompeni
Berbaris layak sekutu
Romusa bagai jelata
Tak kenal lelah
Bungkam kata, bungkam suara
Derap langkah memecah telaga
Hanya wajah pasrah yang tergambar nyata
Bebas, lepas!
Bebas, lepas!
Suara yang menelanjangi kami
Teriakan yang mematikan kami
Tindakan yang membodohkan kami
Dan kami hanya berdeham berlari ke kamar mandi
Selepas itu, hanya meniru kompeni
Sering disebut kompeni
Berbaris layak sekutu
Romusa bagai jelata
Tak kenal lelah
Bungkam kata, bungkam suara
Derap langkah memecah telaga
Hanya wajah pasrah yang tergambar nyata
Bebas, lepas!
Bebas, lepas!
Suara yang menelanjangi kami
Teriakan yang mematikan kami
Tindakan yang membodohkan kami
Dan kami hanya berdeham berlari ke kamar mandi
Selepas itu, hanya meniru kompeni
Thursday, 17 October 2013
Menunggu
Selamat pagi kamu, yang tak jemu melukis pelangi di hariku
Apa kabar kamu? Yang tak pernah jera menyebar rindu
Sepotong roti bercerita pada pagi
Masih sama, tentang rindu yang menggebu
Tentang rasa yang membuncah
Tentang pinta yang memaksa
Dan terakhir, tentang setia yang bertanya
"akankah semua sama? seperti semula sebelum jarak tercipta"
"akankah semua sama? seperti semula sebelum rindu menerpa"
"akankah semua sama? seperti semula sebelum cemburu mendera"
"akankah semua sama? seperti semula sebelum curiga menyapa"
Dan jawabnya, hanya mengikuti masa...
-Malang, 10 Juni 2013-
Apa kabar kamu? Yang tak pernah jera menyebar rindu
Sepotong roti bercerita pada pagi
Masih sama, tentang rindu yang menggebu
Tentang rasa yang membuncah
Tentang pinta yang memaksa
Dan terakhir, tentang setia yang bertanya
"akankah semua sama? seperti semula sebelum jarak tercipta"
"akankah semua sama? seperti semula sebelum rindu menerpa"
"akankah semua sama? seperti semula sebelum cemburu mendera"
"akankah semua sama? seperti semula sebelum curiga menyapa"
Dan jawabnya, hanya mengikuti masa...
-Malang, 10 Juni 2013-
Celah Jendela
Aku semakin dibuat tak waras
Bisa menyebutnya gila? Sebutan yang lebih pantas
Ribuan kilo ini semakin menyayat
Menumpas habis air mataku
Menyisakan benjolan di kelopak
Ini menyiksa!
Bisakah ku tarik masa
Mendekatkan yang terpisah
Ah, itu hanya ada pada peta
Tapi nyatanya?
Semua hanya menerka
Bayangmu hanya di jendela
Lalu hilang entah kemana
Hanya berbisik pada udara
Menyapa malam yang terselip pinta
Berharap pada pagi
Berdoa pada Ilahi
Ku ingin hadirmu di sisi
Menuai rindu yang menyerbu kalbu
Berapa lama kau ku tunggu?
Berapa banyak air mataku jatuh?
Berapa kata untuk doaku?
Tuhan, jamahlah doaku, kabulkan pintaku
Aku ingin hadirnya nyata, bukan bayangnya di jendela
-Malang, 16 Juni 2013-
Bisa menyebutnya gila? Sebutan yang lebih pantas
Ribuan kilo ini semakin menyayat
Menumpas habis air mataku
Menyisakan benjolan di kelopak
Ini menyiksa!
Bisakah ku tarik masa
Mendekatkan yang terpisah
Ah, itu hanya ada pada peta
Tapi nyatanya?
Semua hanya menerka
Bayangmu hanya di jendela
Lalu hilang entah kemana
Hanya berbisik pada udara
Menyapa malam yang terselip pinta
Berharap pada pagi
Berdoa pada Ilahi
Ku ingin hadirmu di sisi
Menuai rindu yang menyerbu kalbu
Berapa lama kau ku tunggu?
Berapa banyak air mataku jatuh?
Berapa kata untuk doaku?
Tuhan, jamahlah doaku, kabulkan pintaku
Aku ingin hadirnya nyata, bukan bayangnya di jendela
-Malang, 16 Juni 2013-
Perjalanan
Venus berkedip riang
Embun berjatuhan lembab
Dingin menusuk tulang
Mata pun masih sembab
Ku eratkan pelukan pinggang
Membelah dingin remang
Bercumbu dengan kantuk
Tanpa suara ayam kluruk
Berpacu mesin tanpa deru
Bersautan adzan subuh
Bersapa perempuan tangguh
Berpadu tak kenal saru
Sungguh indah suguhan subuh
Mencipta damai, menyentuh kalbu
Bendungan menyapa bersama surya
Arjuna menjulang menyapa ramah
Terima kasih alam...
Kan ku ceritakan pada malam
Tentang pagi yang menjadi kenangan
Dengan kamu sebagai tambahan
Bersama cinta yang melengkapkan
Embun berjatuhan lembab
Dingin menusuk tulang
Mata pun masih sembab
Ku eratkan pelukan pinggang
Membelah dingin remang
Bercumbu dengan kantuk
Tanpa suara ayam kluruk
Berpacu mesin tanpa deru
Bersautan adzan subuh
Bersapa perempuan tangguh
Berpadu tak kenal saru
Sungguh indah suguhan subuh
Mencipta damai, menyentuh kalbu
Bendungan menyapa bersama surya
Arjuna menjulang menyapa ramah
Terima kasih alam...
Kan ku ceritakan pada malam
Tentang pagi yang menjadi kenangan
Dengan kamu sebagai tambahan
Bersama cinta yang melengkapkan
Pulang Kuliah
Kali ini aku berteman dengan senja
Berdampingan dengan bulan yang merona
Bertiup angin meraba manja
Berkicau burung tertawa ria
Di gedung ini aku berteduh
Duduk bersila dari gaduh
Langit orange memancar ceria
Ada apa sebenarnya? hampir tak percaya
Senja kali ini sungguh berbeda
Dari semua rasa yang ditelan masa
Inginku lupa tentang kasta
Memandang wajah berpancar cinta
Hadirmu membuatku sempurna
Dari masa yang pernah ada
Bulan di sana tak berarti apa
Senja ini tak berarti apa
Kicau ria burung pun tak berarti apa
Tapi hadirmu berarti nyata
Bersama masa, melebur rasa, menyatu dalam cinta
Hanya kamu yang membuatku ada
Berdampingan dengan bulan yang merona
Bertiup angin meraba manja
Berkicau burung tertawa ria
Di gedung ini aku berteduh
Duduk bersila dari gaduh
Langit orange memancar ceria
Ada apa sebenarnya? hampir tak percaya
Senja kali ini sungguh berbeda
Dari semua rasa yang ditelan masa
Inginku lupa tentang kasta
Memandang wajah berpancar cinta
Hadirmu membuatku sempurna
Dari masa yang pernah ada
Bulan di sana tak berarti apa
Senja ini tak berarti apa
Kicau ria burung pun tak berarti apa
Tapi hadirmu berarti nyata
Bersama masa, melebur rasa, menyatu dalam cinta
Hanya kamu yang membuatku ada
Tuesday, 15 October 2013
Satu, dan itu kamu.
Ini tentang cinta yang mengungkap segala rasa. Tawa, suka, luka, duka, resah, gelisah, semua beradu satu. Bukan tentang resah yang datang, atau gelisah yang menghampiri, tetapi terlebih tentang bagaimana menjaga semua. Cinta tak akan ada tanpa suka, duka, tak akan bertahan tanpa setia, dan tak akan berjalan tanpa percaya.
Aku percaya cinta, aku setia pada satu nama, dan itu kamu - Fariz Bastomy.
Aku percaya cinta, aku setia pada satu nama, dan itu kamu - Fariz Bastomy.
Kacau
Aku bosan, semua membuatku penat
Mana sapamu? Candamu, tawamu, mana?
Tuhan, rindu ini semakin melumat habis perasaanku
Sakit.
Ku titipkan rinduku pada awan, angin, matahari, bulan, bintang
dan apa saja yang dapat membawanya padamu
Aku harap kamu merasakannya
Kesepian ini membawaku pada kekacauan
Inginku berlutut agar kau kembali
Tapi itu hanya sebait doa yang tak pernah terdengar oleh-Nya
Jarak ini hampir membunuhku.
-27 Mei 2013-
Mana sapamu? Candamu, tawamu, mana?
Tuhan, rindu ini semakin melumat habis perasaanku
Sakit.
Ku titipkan rinduku pada awan, angin, matahari, bulan, bintang
dan apa saja yang dapat membawanya padamu
Aku harap kamu merasakannya
Kesepian ini membawaku pada kekacauan
Inginku berlutut agar kau kembali
Tapi itu hanya sebait doa yang tak pernah terdengar oleh-Nya
Jarak ini hampir membunuhku.
-27 Mei 2013-
Subscribe to:
Posts (Atom)

