Wednesday, 6 November 2013

Analisis Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, Chairil Anwar

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Hayati

Karya : Chairil Anwar

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Hayati

Puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil yang bertemakan kesedihan karena cinta ini seolah menggambarkan perasaan sedih yang dirasakan oleh penyair. Dalam kesedihan tersebut, penyair tetap berusaha untuk tegar. Dalam puisi tersebut tidak satupun terdapa kata-kata sedih yang diucapkan, namun penyair mampu mengungkapkan rasa sedihnya itu. Penyair membawa imaginasi pembaca untuk ikut serta melihat tepi laut dengan gedung serta rumah tua serta kapal, perahu yang tiada berlaut. Gambaran tentang pantai, tentang sesuatu yang suram, di mana terdapat seorang yang sedang menyendiri meyusuri pantai tanpa harapan, tanpa cinta.
Pada bait satu di atas, penyair berhasil menghidupkan suasana kesedihan, ini disebabkan oleh bahasa yang dipakai mengandung kekuatan yang memancarkan rasa sedih, suram. Judul puisi tersebut juga telah membawa kita pada situasi khusus, karena senja biasanya identik dengan sesuatu yang suram karena bayangan senja sendiri orange memperlihatkan sinar matahari yang akan tertutup malam, remang-remang, gelap.
Lalu pada bagian ini, penyair melukiskan suasana yang menambah kelam dengan adanya gerimis. Kata gerimis dipilihnya karena tersa lebih indah daripada hujan ataupun gelap walaupun sama artinya. Ada juga kelepak elang yang menyinggung muram, yang berbicara tentang kemuraman penyair saat itu. Penyair juga mengungkapkan bahwa hari akan berlalu dan berganti dengan masa depan, yang diungkapkan dengan kata-kata desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Penggambaran yang semakin gelap disajikan dengan kata-kata kini tanah dan ir tidur hilang ombak.
Pada bait terakhir penyair mengungkapkan bahwa ia tidak akan lagi berharap pada sesuatu yang jelas tidak akan terwujud. Meskipun penyair sebenarnya masih merasakan kesedihan, ini digambarkan penyair dengan kata-kata menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba diujung.

No comments:

Post a Comment