Hey, dengan apa aku berkata?
Hey, dengan apa aku meminta?
Hey, dengan apa aku merasa?
Hey, dengan apa aku memaksa?
Bibirku keluh
Tanganku kaku
Hatiku jenuh
Rasaku beku
Mataku berkata
Hatiku meminta
Nadiku merasa
Ragaku memaksa
Dengarkan kataku, pintaku, rasaku,
Dan ingin memaksamu...
Ah, ilusi batin saja.
Saturday, 5 October 2013
Gubuk Besi
Diding beton berdiri gagah
Deret besi setajam ranjau
Keramik bening bersusun kilau
Warna senada berpadu indah
Berpetak ruang saling hadap
Berpuluh nyawa berdiam teduh
Hening, seperti mati
Derap langkah membelah sunyi
Bisik lirih memecah pagi
Hanya itu, tanpa bernyanyi
Aku terkurung bersama sepi
Ini bukan gubuk mati!
Bukan juga penjara napi!
Lalu, dengan apa ku namai?
Tempat besar kepala?
Tempat tinggi hati?
TIDAK!
Kita sama,
Beradu nasib hanya menumpang.
Deret besi setajam ranjau
Keramik bening bersusun kilau
Warna senada berpadu indah
Berpetak ruang saling hadap
Berpuluh nyawa berdiam teduh
Hening, seperti mati
Derap langkah membelah sunyi
Bisik lirih memecah pagi
Hanya itu, tanpa bernyanyi
Aku terkurung bersama sepi
Ini bukan gubuk mati!
Bukan juga penjara napi!
Lalu, dengan apa ku namai?
Tempat besar kepala?
Tempat tinggi hati?
TIDAK!
Kita sama,
Beradu nasib hanya menumpang.
Friday, 4 October 2013
Berjalan atau Berlari
Aku terlahir mungil
Melantangkan tangis, memberi bahagia
Tubuhku tak lagi terlilit usus
Tak lagi berada di dinding lembut milik ibuku
Perlahan kubuka mata, namun hanya gelap yang ada
"Aku di mana?" batinku
Aku berjalan
Tubuhku tak lagi digendong
Saat kubuka mata, tak lagi kulihat gelap
Ada cahaya
"Aku di mana?" batinku
Aku berlari
Tak lagi berjalan pelan, bahkan merangkak
Kubuka mata, banyak cahaya yang kulihat
"Aku di mana?" batinku
Kini pintu telah terbuka
Aku tepat berada di ambang
Hanya dua pilihan,
Kembali berjalan ke dalam atau berlari keluar?
Ah, dilema jadinya.
Melantangkan tangis, memberi bahagia
Tubuhku tak lagi terlilit usus
Tak lagi berada di dinding lembut milik ibuku
Perlahan kubuka mata, namun hanya gelap yang ada
"Aku di mana?" batinku
Aku berjalan
Tubuhku tak lagi digendong
Saat kubuka mata, tak lagi kulihat gelap
Ada cahaya
"Aku di mana?" batinku
Aku berlari
Tak lagi berjalan pelan, bahkan merangkak
Kubuka mata, banyak cahaya yang kulihat
"Aku di mana?" batinku
Kini pintu telah terbuka
Aku tepat berada di ambang
Hanya dua pilihan,
Kembali berjalan ke dalam atau berlari keluar?
Ah, dilema jadinya.
Jum'at, 04 Oktober 2013
Terik kuning menyengat
Ku angkat lengan ke atas
Ku hela nafas panas
Aku duduk terdiam penat
Memandang hamparan kering
Hanya basah yang ku dapat
Mencari di sela kuning
Hanya kilau yang ku dapat
Sampai kapan berteman penat?
Jejakmu tak kunjung nampak
Sampai kapan aku merapat?
Menanti langkahmu mendekat
Ku angkat lengan ke atas
Ku hela nafas panas
Aku duduk terdiam penat
Memandang hamparan kering
Hanya basah yang ku dapat
Mencari di sela kuning
Hanya kilau yang ku dapat
Sampai kapan berteman penat?
Jejakmu tak kunjung nampak
Sampai kapan aku merapat?
Menanti langkahmu mendekat
Dalam Remang
Semilir angin menyapa manja
Suara gaduh bersahutan menyusun irama
Bola-bola lampu menari dengan nada
Deret kayu tersusun rapi berpetak
Beberapa pasang mata berhadap sapa
Menikmati setiap alunan alam yang bercerita
Dengan bersila aku memandang satu arah
Memandang hampir tanpa jeda
Tersenyum dalam simpul bahagia
Menikmati tiap suguhan dengan rasa
Kamu,
Mampu menyita habis malam ini
Menyempurnakan malam ini
dengan chocolate float yang menemani
Dan aku berbisik lirih pada angin,
"Terima kasih, Tuhan. Aku menyayanginya"
Suara gaduh bersahutan menyusun irama
Bola-bola lampu menari dengan nada
Deret kayu tersusun rapi berpetak
Beberapa pasang mata berhadap sapa
Menikmati setiap alunan alam yang bercerita
Dengan bersila aku memandang satu arah
Memandang hampir tanpa jeda
Tersenyum dalam simpul bahagia
Menikmati tiap suguhan dengan rasa
Kamu,
Mampu menyita habis malam ini
Menyempurnakan malam ini
dengan chocolate float yang menemani
Dan aku berbisik lirih pada angin,
"Terima kasih, Tuhan. Aku menyayanginya"
Subscribe to:
Posts (Atom)