Friday, 4 October 2013

Dalam Remang

Semilir angin menyapa manja
Suara gaduh bersahutan menyusun irama
Bola-bola lampu menari dengan nada
Deret kayu tersusun rapi berpetak
Beberapa pasang mata berhadap sapa
Menikmati setiap alunan alam yang bercerita
Dengan bersila aku memandang satu arah
Memandang hampir tanpa jeda
Tersenyum dalam simpul bahagia
Menikmati tiap suguhan dengan rasa

Kamu,
Mampu menyita habis malam ini
Menyempurnakan malam ini
dengan chocolate float yang menemani
Dan aku berbisik lirih pada angin,
"Terima kasih, Tuhan. Aku menyayanginya"

Njambon*

Aku menyebutnya ini cinta
Aku menyebutnya ini sayang
Aku menyebutnya ini indah
Aku menyebutnya ini sempurna

Lalu dengan apa lagi aku menyebutnya?
Hampir habis kataku mengucap tentangmu
Tak ada kalimat rumpang terucap untukmu
Semua begitu indah, begitu sempurna
Adakah manusia yang Tuhan ciptakan sempurna? Maka jawabnya, TIDAK!
Tapi, ada manusia yang Tuhan ciptakan mendekati sempurna. Iya ada.
Dan itu, kamu.
Segala rasamu mampu menyempurnakanku,
Segala tingkahmu mampu menyempurnakanku,
Apa ini berlebih? Ah, aku rasa tidak.
Aku berkata apa adanya, seperti apa yang ku rasa

*Njambon : Istilah Jawa yang berarti merah muda

Buntu

Gulungan ombak mengikis jari kaki
Menyelimuti tiap kuku-kuku biru
Tak ku angkat celanaku ke atas, biarlah terbasuh air
Aku mendongak, melihat semua tanpa batas
Biru, atas dan bawah langit
Aku berbaring
Aku berpaku bisu
Nyawa pemberian-Mu kubiarkan begitu saja
Tanpa warna, tanpa cahaya
Imajinasiku kelam, hidupku sama
Sampai ombak menggulung habis anganku
Mengajak aku berdiam di palung laut
Tak ada cahaya, hanya gelap yang ku rasa
Aku hanya pasrah pada masa, biarkan semua rata

Hanya Kata

Bla bla bla, katamu
Bla bla bla, katamu
Katamu bukan hatimu

Kata hanya sebatas kata
Memang tak terikat tapi bermakna
Memang tak menjanjikan tapi mengartikan

Tangan Pisang

Deret pisang berjajar enak
Perlahan dikupasnya lunak
Sejuta sayang tertera nyata
Rengekan beradu tangis manja
Mencecap habis tiap suapnya

Wajah merona tergambar gembira
Tangan itu mengulas tawa
Di sela tangannya aku berlindung teduh
Tak lagi sesak, penat, atau jenuh
Terima kasih pemberi nyawa,
Aku menyayanginya
Mulai aku berbasuh darah, hingga nanti terbalut tanah